dreaming_2-wallpaper-800x600 (2)

The Dreamer dan Mimpi nya

Ini merupakan artikel yang terdiri dari 3 bagian dimana saya akan membahas mengenai visi, nilai-nilai dan warisan HDI.

Halo!

Banyak orang menanyakan tentang apa yang saya lihat akan terjadi di HDI di masa mendatang. Mungkin kata yang lebih tepat adalah apa yang saya rasakan.

Bagi saya, bisnis merupakan investasi emosional. Saat pertama bergabung dengan HDI, saya punya ide-ide tetapi sangat sedikit pengetahuan tentang bagaimana hal-hal bekerja. Saya memiliki ego. Saya cepat mengkritik. Saya ingin merubah banyak hal terlalu cepat dan terlalu dini tanpa memahami dulu bagaimana keadaan sebelumnya. Saya mencoba melihat masa depan saya di perusahaan ini. Namun masa depan itu juga tidak jelas.

Saya ingat suatu periode dalam kehidupan pekerjaan saya yang membuat saya frustrasi, di mana saya sendiri tidak tahu ke mana keadaan menuju. Yang saya tahu hanyalah bahwa kami saat itu sedang berusaha untuk memperbaiki banyak hal di sekitar kami. Namun itu tidaklah mudah. Saya berusaha menjadi pemimpin yang baik, namun saya tidak merasa memegang kendali. Saya lebih banyak bereaksi terhadap berbagai situasi dan berusaha menyelesaikan masalah.

Hal itu membuat saya gila. Saya tahu bahwa saya harus mengubah cara saya melakukan segala sesuatu. Namun saya tidak tahu apa yang harus dilakukan.

Jadi saya memutuskan untuk melakukan refleksi diri. Salah satu hal pertama yang saya sadari adalah bahwa saya berpola pikir seperti seorang karyawan yang mengikuti instruksi. Saya selalu menunggu perintah atau arahan. Saya tidak memiliki cukup inisiatif. Saya tidak tahu apa yang benar-benar terjadi dalam bisnis ini. Dan ini semuanya salah. Saya harus merasa memiliki dan bertanggung jawab atas tindakan saya.

Berikutnya, saya harus menghadapi kelemahan-kelemahan saya sendiri. Saya bisa katakan pada Anda bahwa itu adalah salah satu hal tersulit yang harus saya lakukan. Tidak mudah untuk jujur pada diri sendiri dan mengakui semua kegagalan Anda. Anda harus menyingkirkan ego dan berusaha mengenal diri Anda dengan lebih baik. Saya menyusun daftar kata-kata yang menurut saya paling tepat untuk menggambarkan diri saya. Selanjutnya adalah bagian yang sulit – saya menunjukkan daftar tersebut kepada keluarga dan teman-teman dekat saya, dan menanyakan apakah mereka setuju dengan penilaian saya. Karena saya jujur pada diri sendiri, mereka pun memberikan umpan balik yang sangat baik. Saya segera menyadari bahwa kesan saya tentang diri saya sendiri sedikit berbeda dengan kesan mereka tentang saya. Hal ini sangat membuka mata saya.

Kini saya dapat mengidentifikasi secara obyektif akan hal-hal apa yang saya yakini dan hal-hal apa yang perlu saya perbaiki. Dilengkapi hal ini, langkah berikutnya adalah untuk melihat perusahaan dengan cara yang sama. Hal-hal apa saja yang sudah berjalan dengan baik untuk kita, dan hal-hal apa saja yang dapat kita perbaiki? Saya mulai mengatasi kelemahan-kelemahan satu per satu, dengan cara yang sama saya mengatasi kelemahan-kelemahan saya sendiri.

Dengan cara ini, saya mulai merasa lebih dekat dengan perusahaan. Saya akhirnya mulai merasa memiliki proses. Saya siap untuk meninggalkan jejak saya dalam berbagai hal. Saya melihat perusahaan dari berbagai perspektif yang berbeda: sebagai pelanggan, sebagai pengusaha, sebagai karyawan dan sebagai pemegang saham. Dengan begitu, saya pelan-pelan memformulasikan pemikiran-pemikiran saya dan menciptakan visi saya sendiri tentang bagaimana saya ingin menjadikan HDI. Diperlukan sebuah visi yang dapat saya yakini dengan sepenuh hati, dan harus dapat membimbing baik diri saya sendiri maupun orang lain untuk mengambil keputusan atas nama perusahaan.

Itu merupakan proses yang panjang. Membutuhkan waktu sekitar satu tahun untuk mencoba memahami siapa diri saya dan HDI seperti apa yang saya inginkan. Hal ini sangat berbeda dengan bagaimana perusahaan-perusahaan lain melakukan perencanaan, di mana mereka mengumpulkan manajemen senior selama beberapa hari, mengajukan pertanyaan-pertanyaan pada mereka mengenai arah perusahaan dan menetapkan sesuatu sebagai hasil opini bersama dari semua orang yang berada di dalamnya. Ya, semua orang memiliki pendapat atau setuju dengan visi tersebut. Tetapi tidak ada yang benar-benar bersemangat mengenai hasilnya, karena itu bukanlah mereka. Saya memiliki gairah yang besar untuk HDI karena HDI adalah saya, dan saya adalah HDI. Saya ingin dapat berbagi dengan siapa saja di luar sana tentang siapa saya sebenarnya, dan jika visi saya merupakan sesuatu yang menarik bagi mereka, maka mereka akan bergabung dengan saya untuk mewujudkannya.

Lalu visi seperti apa yang membutuhkan waktu begitu lama untuk saya ciptakan? Saya tidak tahu apakah Anda akan menertawakan saya, namun visi saya bermula dari mimpi-mimpi saya sewaktu saya kecil. Saat tumbuh dewasa, saya selalu bermimpi tentang dunia di mana saya ingin menjadi bagian darinya. Saya tahu saya ingin tinggal dalam sebuah dunia di mana orang-orang akan merasa bahagia dan tersenyum. Orang-orang itu memiliki tujuan dan pemenuhan diri. Mereka pastinya tetap akan berselisih paham, namun hal itu tidak berarti mereka tidak dapat hidup bersama. Akan ada saling menghormati dan saling mempercayai. Semua orang dapat hidup, belajar dan mencintai, bersama-sama dan untuk satu sama lain.

Seiring bertambahnya usia, saya melihat semakin banyak alasan kenapa mimpi saya hanya akan terus menjadi mimpi. Manusia memiliki ego, rakus dan egois. Bahkan, begitu pula dengan saya! Lalu bagaimana mungkin ada harapan bahwa mimpi saya akan menjadi kenyataan?

Saya rasa karena itulah, sebelum mengubah dunia, pertama-tama saya harus mengubah diri saya sendiri. Karena itulah saya memilih jalan ini. Saya tidak ingin menjadi penipu. Saya ingin memahami diri sendiri bahwa sebenarnya mungkin saja untuk berpikir dan merasa seperti ini. Dan harus saya akui bahwa saya sangat beruntung. HDI memberikan berbagai kesempatan yang saya butuhkan untuk memperbaiki diri dan cara saya berpikir. Dengan bekerja sama dengan banyak orang dari berbagai latar belakang dan budaya, saya mendapatkan pemahaman yang lebih mendalam tentang bagaimana orang bekerja. Saya menyadari bahwa setiap orang memiliki kisahnya sendiri. Saya tidak dapat menghakimi. Namun yang saya butuhkan adalah empati. Semua orang dalam hidup ini mencari tempat yang aman di mana mereka dapat menjadi dirinya sendiri. Namun mereka merasakan kebutuhan yang sangat besar untuk menjadi orang lain karena takut dihakimi oleh orang lain. Tidak lama setelah itu, menjadi orang lain menjadi identitas mereka, dan mereka melupakan siapa diri mereka sebenarnya. Bagi yang membaca tulisan ini, jika Anda pernah sedikit merasakan kekosongan atau selalu mencari hal atau pengalaman untuk menentukan siapa diri Anda, Anda pasti tahu maksud saya.

Jadi saya memutuskan akan selalu bekerja untuk membangun tempat yang aman tersebut, untuk membuat orang-orang menyingkirkan perbedaan mereka dan saling berhubungan pada tingkat paling dasar tanpa rasa takut atau curiga. Namun bisa saya katakan bahwa tidak mudah untuk meyakinkan orang untuk menyingkirkan rasa tidak aman mereka dalam semalam. Ini merupakan proses yang sulit, namun hal ini tidak menghentikan saya untuk mencoba, terutama jika saya meyakini apa yang saya lakukan.

Kita harus menyadari bahwa kita tidak memerlukan suatu bencana yang akan memusnahkan seluruh umat manusia dari muka bumi untuk dapat menyingkirkan segala perbedaan dan untuk bekerja sama. Jika kita memutuskan untuk bekerja sama sekarang, kita akan dapat melakukan jauh lebih banyak hal untuk membantu spesies kita. Alih-alih, kita terlalu sibuk saling menginjak untuk peduli.

Saya tahu saya tidak dapat mengubah dunia secara langsung, namun jika saya dapat menginspirasi orang lain dengan membuat contoh bersama HDI, mungkin suatu hari orang akan melihat bahwa hal seperti itu mungkin terjadi. Itulah sebabnya visi saya untuk HDI adalah “Menginsipirasi dunia di mana manusia hidup, belajar dan mencintai lebih dari dirinya sendiri”. Kunci sebenarnya ada pada bagian “lebih dari dirinya sendiri”, karena saya ingin agar orang melihat lebih dari kebutuhan dan keinginannya sendiri, dan turut memikirkan kebutuhan dan keinginan orang lain juga. Jika kita dapat mencapai ini, bayangkan betapa jauh lebih damainya dunia kita. Pada akhirnya, jika kita tidak cukup menginginkannya untuk diri kita sendiri, maka pikirkanlah tentang dunia seperti apa yang ingin kita tinggalkan untuk anak-anak kita.

* Pada Bagian 2 dan 3, saya akan bicara lebih banyak mengenai nilai-nilai kami – Hidup, Belajar dan Cinta, sama halnya dengan Warisan yang saya ingin akan kita tinggalkan.

Brandon Chia, 37 has been the Chairman and CEO of HDI since 2013. He was named CEO in 2011 and Chairman in January 2013. He succeeds Peter Chia, Founder and Chairman Emeritus as the 2nd generation business owner. Born in Singapore with a Degree in Law from the National University in Singapore, Brandon has championed consolidation, streamlining and efficiency of the various businesses within the group. He was also instrumental in driving double-digit growth of the organization’s revenue and profitability. In 2013, he led the organisation in rebranding itself from High-Desert to HDI across all the countries and business units. He created the vision, mission, values, purpose and legacy for the brand and also reorganised the portfolio of products, segregating them under different categories each with their own market position and target audience. He also worked to develop a turnkey franchise system that would allow the organisation to grow rapidly in emerging markets. Prior to being appointed Chairman and CEO, Brandon served as the International Operations Manager, jumpstarting the Philippines offices and focussing on growing the Outdoor Advertising, Finance and stock brokerage industries. He also started up two new businesses, Resource and Systech, successful spin offs from the Shared Services division of the Philippines. Brandon’s personal philosophy is about growth and evolution of mankind. His vision is to create healthy, open communities of people that share their knowledge readily and are able to live, learn and love beyond themselves.

Leave a Reply

Next ArticleLive Learn Love