livelearnlove

SIKLUS KEHIDUPAN

Halo! Sudah cukup lama yang tidak menulis blog. Dalam posting kali ini saya akan membuat tiga tulisan berseri mengenai visi, tagline, dan warisan kita. Ternyata butuh waktu cukup panjang bagi saya menulis hal ini. Saya berharap Anda menikmatinya.

Jika Anda melihat HDI belakangan ini, Anda akan melihat tagline Live Learn Love selalu “menempel” di dekat logo kita. Ini bukan sekadar tagline, namun juga sebuah refleksi dari nilai-nilai perusahaan kita. Dalam banyak kesempatan, orang-orang mendatangi saya dan mengatakan mereka menyukai tagline ini karena sederhana, namun mengandung arti yang dalam, dan mereka merasakan ikatan emosi kepada tiga kata ini.

Tetapi tagline kita bukanlah sesuatu yang didapatkan dengan spontan. Ini didapatkan dari sebuah proses dedikasi yang sangat ekstrim, sampai akhirnya kita menemukan sebuah tagline yang sederhana, namun mengandung arti yang sangat dalam.

Saat HDI pertama kali dimulai tahun 1986 dengan nama High-Desert, HDI tidak memiliki tagline. Kemudian kita fokus mengembangkan brand High-Desert, yang merupakan referensi dari sebuah tempat di Amerika, tempat asal produk kita. Baru kemudian setelah bisnis network marketing ini semakin berkembang, ayah saya, Peter Chia, membuat tagline “The Helping People Business”. Di dalam pikirannya, High-Desert adalah sebuah bisnis yang membantu individu untuk mengembangkan diri, sehingga mereka bisa menolong orang lain untuk mengembangkan diri. Ini hal mendasar yang membuat High-Desert berbeda dengan perusahaan network marketing lainnya. Ayah saya merasa bahwa HDI bukan hanya tentang menghasilkan uang atau meraih kesuksesan diri sendiri – dia ingin menciptakan tujuan yang memampukan kita membuat perubahan bagi hidup dan kehidupan di sekitar kita.

Di awal tahun 2000, tagline ini diringkas menjadi “Helping People”. Perubahan ini karena dia ingin tindakan menolong sesama tidak hanya terbatas dalam urusan bisnis saja. Dia ingin setiap orang menolong sesamanya dengan tulus dan jujur. Bukan hanya itu, ayah saya semakin serius untuk secara akitf menolong masyarakat. Dia mulai berpikir bahwa bisnis bukan lebih dari sekadar bisnis – dia ingin menginginkan pemikiran ini menjadi sebuah gerakan di mana orang mulai memikirikan di luar dirinya.

Dengan tujuan yang baru ini, melalui HDI Foundation yang berdiri tahun 2005, dia mendanai pembelian tanah di mana Kampoeng Kids kini berada, untuk mendirikan sekolah bagi kaum pra-sejahtera. Dia bersikeras bahwa pendidikan adalah kunci untuk menolong mengembangkan kehidupannya. Ini adalah caranya menolong sesama. Dalam waktu yang hampir bersamaan, dia juga memulai mengumandangkan pesan tentang kasih melalui program Harmony of Love. Dia ingin orang mengetahui bahwa hanya dengan kasih kita dapat meruntuhkan penghalang antara manusia dan mengeratkan hubungan. Tindakannya dianggap agak murahan, karena pada saat itu kasih bukanlah unsur dalam dunia bisnis. Orang menertawakannya, tetapi dia tetap bersikeras terhadap pesan kasih ini. Kita bahkan memiliki program love and care yang dipelopori olehnya untuk mengajarkan para Enterpriser cara menjalankan bisnis dengan kasih. Keputusannya merupakan “jalan menanjak”, namun dia tidak pernah sekali pun menyerah. Dia sangat percaya bahwa dengan mengubah cara berpikir orang secara perlahan, dia akan meraih golnya untuk menjadikan dunia lebih baik.

Di tengah tahun 2000, saya mengambil alih operasional di Filipina. Di Filipina sangat unik, kami memiliki beragam perusahaan yang beroperasi di berbagai bidang industri. Setiap perusahaan memiliki identitasnya sendiri dan entah bagaimana seluruh perusahaan tersebut tidak menunjukkan adanya hubungan satu dengan yang lain. Saya ingat, suatu hari saya duduk memikirkan cara terbaik untuk menghubungkan seluruh perusahaan ini. Inilah yang memicu kelahiran logo HDI berwarna merah berbentuk bata yang tersusun yang terinspirasi dari lego, mainan favorit saya. Saya menggunakan gambar tersebut karena saya ingin brand kita menjadi sebuah bangunan yang tersusun rapih dari berbagai bisnis yang sukses. Masing-masing mungkin memiliki tujuan yang berbeda, tetapi semuanya berbagi nilai-nilai dan filosofi yang sama. Ini sekaligus melahirkan sebuah tagline baru “Inspiring Better Lives”. Bagi saya semua perusahaan HDI ada untuk menjadi inspirasi dan menolong orang hidup lebih baik. Dengan perubahan ini, HDI menuju kepada brand dan citra yang konsisten.

Saya ingat di tahun 2010, saya melihat ada perusahaan lain di Singapura menggunakan tagline yang sama. Itu adalah perusahaan properti yang besar. Di satu sisi saya senang karena memiliki visi yang sama, tapi di sisi yang lain saya sedih harus berbagi tagline dengan perusahaan lain. Lalu, saya jadi berpikir keras mengenai apa hal yang paling mewakili HDI. Saya membuat penelitian mengenai strategi branding dan berbicara kepada beberapa orang bisnis mengenai hal ini. Ironisnya, semakin saya membaca, saya merasa semakin jauh dari yang saya cari, karena jadi ada begitu banyak yang perlu dipertimbangkan. Akhirnya saya menyadari kalau saya ingin membuat brand organisasi yang sukses saya bukan hanya perlu mengenai mengenai perusahaan ini, tetapi saya juga perlu mengerti diri saya sebagai seorang pribadi. Itu adalah satu-satunya cara untuk meraih sebuah konsistensi. Maka, dimulailah perjalanan saya mencari diri sendiri.

Dua tahun kemudian, saya mengalami perubahan yang cepat sebagai seorang pribadi: belajar, praktik, jatuh, dan mengoreksi diri sendiri. Saya beruntung, di usia seperti ini dapat pengalaman menjalankan lima jenis bisnis berbeda di empat negara berbeda. Dan, saya juga beruntung dikelilingi oleh orang-orang yang membantu dan mendukung saya sementara saya “jatuh bangun” di dalam perjalanan saya. Yang mereka ajarkan sangat berharga untuk membantu saya menjadi seorang pemimpin yang saya inginkan.

Pada tahun 2013, ketika mempersiapkan untuk mengambil alih seluruh perusahaan HDI, saya menginginkan ada sesuatu yang merefleksikan HDI secara internasional. Idenya bukan hanya membuat simbol visual brand, tetapi juga tagline yang unik dan memiliki arti yang dalam. Saya telah mengambil alih brand HDI dan ini waktunya saya mengekspresikan pikiran saya melalui brand HDI.

Saya dan tim melakukan brainstorm dengan berbagai graphic artist untuk membuat sebuah desain, tapi tidak satu pun yang klik untuk saya. Tidak ada keunikan di dalam desain-desain tersebut. Akhirnya, kami menemukan sebuah brand agency di Hong Kong. Saya melihat karya mereka dan mengatur jadwal meeting dengan mereka. Kami menghabiskan waktu dua jam membicarakan brand HDI dan apa yang saya inginkan dari brand tersebut.

Setelah lebih dari 10 minggu, kami mendapatkan tujuh presentasi. Di presentasi yang kedua, ada satu desain yang menarik perhatian saya – desain tersebut terinspirasi dari sarang lebah. Sederhana, tapi ekspresif, dan saya sangat menyukainya. Kami menggunakannya sebagai dasar dari logo yang Anda lihat sekarang.

Pada saat yang bersamaan, saya juga berusaha membuat tagline yang baru. Yang pertama muncul adalah “Learning to Inspire”. Ide di belakangnya memiliki dua maksud: Bahwa di HDI, untuk menjadi inspirasi kita perlu rendah hati dan belajar dari pengalaman. Dan maksud lainnya adalah hal tersebut mewakili perjalanan kita untuk mengubah diri sendiri – dari belajar sampai menjadi inspirasi bagi orang lain. Opini saya bahwa melalui budaya belajar, kita dapat menjadi inspirasi bagi generasi mendatang dan perusahaan. Saya suka tagline ini karena masih mempertahankan kata “Inspire” dari tagline sebelumnya.

Ketika hal ini saya diskusikan kepada ayah saya, reaksinya biasa saja. Dia menyebutkan bahwa tagline ini tidak berhubungan lagi dengan menolong sesama. Saya menjelaskan bahwa mungkin kita tidak bisa menolong semua orang, tetapi kita dapat menginspirasi orang di sekitar kita untuk melakukan hal tersebut. Dia bertanya, “Bagaimana dengan kasih?” Dia telah menghabiskan delapan tahun terakhir hidupnya untuk membuat orang melihat kasih sebagai kebutuhan melalui program Harmony of Love. Dia berjuang melawan kekonyolan, dan akibatnya, orang tidak menyukainya. Saya kemudian berjanji untuk mempertimbangkan hal tersebut.

Kembali ke akarnya, saya merasa produk lebah kita membantu orang untuk hidup lebih baik. Filosofi pribadi saya adalah belajar sebagai gaya hidup. Dan akhirnya, ayah saya berharap warisannya mengenai kasih yang dia perjuangkan dengan keras menjadi bagian dari perusahaan.

Apa yang lebih baik dari memiliki nilai-nilai dan budaya yang menjadi satu kesatuan? Bnayak perusahaan memiliki tagline untuk menerjemahkan mereka, sementara nilai-nilai untuk menunjukkan bagaimana cara mereka bekerja. Saya melihat hal yang berbeda. Saya mempelajari berbagai cara untuk menggabungkan visi perusahaan sebelum ini dan salah satu masalah yang mengganjal di kepala saya adalah memastikan apa yang kami ciptakan harus mudah untuk diingat. Bagaimana pun juga, lebih sederhana, lebih baik.

Akhirnya, setelah saya menyatukan semuanya di kepala saya, muncullah tiga kata yang Anda kenal saat ini “Live, Learn, Love” dengan urutan seperti ini. Mungkin Anda bertanya kenapa harus berurutan? Tentu saja ada alasannya. Ini merupakan siklus kehidupan. Hidup untuk belajar, belajar untuk mengasihi, dan mengasihi untuk hidup. Kata-kata ini merupakan filosofi pribadi saya, bagaimana cara kita menjalani sebuah kehidupan dan saya ingin berbagi mengenai hal ini kepada semua orang.

Dalam ketiga kata ini saya menemukan “harta terpendam”. Jika Anda mengambil masing-masing dua huruf dari ketiga kata tersebut, Anda akan menemukan kata “EVOLVE”. Dan, ini merupakan nilai keempat untuk saya. Melalui siklus hidup, belajar, dan mengasihi, kita berevolusi menjadi pribadi yang lebih baik. Dan ini adalah gol saya, bahwa melalui kehidupan, pembelajaran, dan mengasihi, HDI berubah menjadi perusahaan yang jauh lebih baik.

Brandon Chia, 37 has been the Chairman and CEO of HDI since 2013. He was named CEO in 2011 and Chairman in January 2013. He succeeds Peter Chia, Founder and Chairman Emeritus as the 2nd generation business owner. Born in Singapore with a Degree in Law from the National University in Singapore, Brandon has championed consolidation, streamlining and efficiency of the various businesses within the group. He was also instrumental in driving double-digit growth of the organization’s revenue and profitability. In 2013, he led the organisation in rebranding itself from High-Desert to HDI across all the countries and business units. He created the vision, mission, values, purpose and legacy for the brand and also reorganised the portfolio of products, segregating them under different categories each with their own market position and target audience. He also worked to develop a turnkey franchise system that would allow the organisation to grow rapidly in emerging markets. Prior to being appointed Chairman and CEO, Brandon served as the International Operations Manager, jumpstarting the Philippines offices and focussing on growing the Outdoor Advertising, Finance and stock brokerage industries. He also started up two new businesses, Resource and Systech, successful spin offs from the Shared Services division of the Philippines. Brandon’s personal philosophy is about growth and evolution of mankind. His vision is to create healthy, open communities of people that share their knowledge readily and are able to live, learn and love beyond themselves.

Leave a Reply